UPAYA PENINGKATAN PENGUASAAN KONSEP PESERTA DIDIK DENGAN MENGGUNAKAN
STRATEGI
PEMBELAJARAN PETA KONSEP MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD
DI KELAS XI MIA SMA NEGERI 2 LIRUNG
Josina Mengga1
SMA Negeri 2
Lirung
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan penguasaan konsep peserta didik dengan menggunakan strategi pembelajaran peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD di kelas XI MIA SMA Negeri 2 Lirung. Salah satu cara peserta didik membangun pemahaman adalah melalui peta konsep. Peta konsep digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Proposisi-proposisi merupakan dua hal atau lebih konsep-konsep yang dihubungkan oleh kata-kata dalam suatu unit semantik. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI MIA SMA Negeri 2 Lirung. Pengamatan dilakukan pada pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen. Keadaan jumlah siswa di kelas ini 22 orang, 15 orang perempuan, dan 7 orang laki-laki. Melalui pengamatan yang dilakukan dikelas XI MIA ketika guru menyampaikan materi sebagian siswa mengambil bagian duduk dibelakang dan bercakap-cakap dengan siswa yang lain tentang hal-hal yang tidak berkaitan dengan materi yang sedang dijelaskan oleh guru, dan ketika diberi tugas mandiri dari 22 siswa hanya 8 siswa yang membuat tugas. Kemampuan siswa untuk mengerjakan tugas dapat dilihat dari pemberian tugas mandiri tersebut. Berdasarkan data yang ada dapat dilihat bahwa masih kurangnya motivasi siswa untuk mengerjakan tugas mandiri. Kurangnya motivasi siswa untuk mengerjakan tugas mandiri disebabkan karena kurangnya penguasaan konsep materi yang disajikan oleh guru.
Kata kunci: Pengusaan
Konsep, Peserta Didik, Strategi Pembelajaran Peta Konsep, Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Stad, Kelas XI SMA Negeri 2 Lirung
Abstract
This study aims to improve students' mastery of concepts by using
concept map learning strategies through the STAD cooperative learning model in
class XI MIA SMA Negeri 2 Lirung. One of the ways students build understanding
is through concept maps. Concept maps are used to express meaningful
relationships between concepts in the form of propositions. Propositions are
two or more things that are connected by words in a semantic unit. The research
subjects were students of class XI MIA SMA Negeri 2 Lirung. Observations were
made on the implementation of learning Christian Religious Education subjects.
The condition of the number of students in this class is 22 people, 15 girls
and 7 boys. Through observations made in class XI MIA when the teacher
delivered the material, some students took part in sitting behind and chatting
with other students about things that were not related to the material being
explained by the teacher, and when given independent assignments from 22
students only 8 students making assignments. The ability of students to do
assignments can be seen from the giving of these independent assignments. Based
on the available data, it can be seen that there is still a lack of student
motivation to do independent assignments. Lack of student motivation to do
independent assignments is due to a lack of mastery of the concept of material
presented by the teacher.
Keywords: Conceptualization; Students; Concept Map Learning
Strategies; Stad Type Cooperative Learning Model; Class XI SMA Negeri 2 Lirung
Pendahuluan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Negara yang maju adalah
Negara yang pendidikannya maju pula, dan demikian sebaliknya. Jadi pendidikan
menopang kemajuan bangsa . Itulah sebabnya mutu pendidikan yang rendah menjadi
keprihatinan bangsa secara keseluruhan, bukan hanya dunia pendidikan sebagai
ruang bagi peningkatan kapasitas anak bangsa haruslah dimulai dengan sebuah
cara pandang bahwa pendidikan kalangan tertentu yang terlibat dalam proses
pendidikan. adalah bagian untuk mengembangkan potensi, daya pikir dan daya
nalar serta pengembangan kreatifitas yang dimiliki. Pendidikan memiliki peran
yang sangat penting dalam mewujudkan masyarakat yang berkualitas, terutama
dalam mempersiapkan peserta didik menjadi subjek yang semakin berperan
menampilkan keunggulan dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri dan profesional
pada bidangnya masing-masing.
Proses pembelajaran memerlukan
suatu strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Secara
khusus dalam proses pembelajaran guru berperan sebagai pengajar, pembimbing,
perantara sekolah dengan masyarakat, administrator dan lain-lain. Untuk itu
wajar bila guru memahami dengan segenap aspek pribadi anak didik seperti: (1)
kecerdasan dan bakat khusus, (2) prestasi sejak permulaan sekolah, (3)
perkembangan jasmani dan kesehatan, (4) kecenderungan emosi dan karakternya,
(5) sikap dan minat belajar, (6) cita-cita, (7) kebiasaan belajar dan bekerja,
(8) hobi dan penggunaan waktu senggang, (9) hubungan sosial di sekolah dan di
rumah, (10) latar belakang keluarga, (11) lingkungan tempat tinggal, dan (12)
sifat-sifat khusus dan kesulitan belajar anak didik. Usaha untuk memahami anak
didik ini bisa dilakukan melalui evaluasi, selain itu guru mempunyai keharusan
melaporkan perkembangan hasil belajar para siswa kepada kepala sekolah, orang
tua, serta Instansi yang terkait.
Berdasarkan pengalaman peneliti
saat mengajar dan diskusi dengan salah satu guru mata pelajaran Pendidkan Agama
Kristen dan Budi Pekerti di SMA Negeri 2 Lirung, ternyata masih ditemukan
beberapa kendala yang dialami guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran
seperti kurangnya penguasaan konsep oleh peserta didik. Ada beberapa hal yang
menjadi faktor kurangnya penguasaan konsep peserta didik seperti kurangnya minat
belajar mandiri baik di sekolah maupun di rumah, hal ini dapat dilihat dari
buku catatan yang rata-rata peserta didik dalam satu kelas jarang memilikinya
atau kurang lengkap dan malas mengerjakan tugas rumah dan kebanyakan tugas
rumah dikerjakan di sekolah sehingga berdampak pada hasil belajar yang rendah.
Selain itu fokus belajar peserta didik hanya terpaku pada modul dan LKS yang
ada di sekolah tanpa membuat suatu inisiatif belajar sendiri untuk meringkas
materi yang luas (dalam modul) kedalam konsep yang lebih sempit (ringkas) agar
mudah dipelajari.
Berangkat dari realita yang ada,
peneliti mencoba menerapkan strategi pembelajaran yang diharapkan dapat
membantu peserta didik agar dapat belajar secara mandiri dalam mengkonstruksi
konsep-konsep materi yang dipelajari. Salah satu strategi yang dapat digunakan
untuk menentukan tujuan bersama dalam proses pembelajaran adalah strategi peta
konsep.
Salah satu cara peserta didik
membangun pemahaman adalah melalui peta konsep. Peta konsep digunakan untuk
menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk
proposisi-proposisi. Proposisi-proposisi merupakan dua hal atau lebih
konsep-konsep yang dihubungkan oleh kata-kata dalam suatu unit semantik, Dahar
(1989) dalam Yamin dan Ansari (2012). Peta konsep dapat dikembangkan secara
individual atau dalam kelompok kecil. Selanjutnya pemetaan konsep menurut
Martin (1994) dalam Trianto (2007), merupakan inovasi baru yang penting untuk
membantu anak menghasilkan pembelajaran bermakna dalam kelas. Peta konsep menyediakan
bantuan visual konkret untuk membantu mengorganisasikan informasi sebelum
informasi tersebut dipelajari. Pemetaan yang jelas dapat membantu menghindari
miskonsepsi yang dibentuk peserta didik.
Ada beberapa tujuan dalam
menggunakan peta konsep yaitu: mengembangkan kemampuan menggambarkan
kesimpulan-kesimpulan yang masuk akal, mengembangkan kecakapan, strategi dan
kebiasaan belajar, mengembangkan suatu keterbukaan terhadap ide baru, serta
mengembangkan kapasitas untuk memikirkan kemandirian.
Berdasarkan beberapa pendapat
tentang peta konsep di atas, dapat disimpulkan bahwa peta konsep merupakan alat
atau skema yang digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara
konsep-konsep yang dihubungkan dalam bentuk yang paling sederhana. Dengan peta
konsep ini akan diketahui bahwa seseorang akan memahami konsep pelajaran atau
tidak.
Konsep dapat dikembangkan
secara individual atau dalam kelompok kecil. Dalam penelitian ini peneliti
mencoba melakukannya dalam kelompok kecil, dan model pembelajaran yang diambil
adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student team achievment
division). Alasan peneliti memakai model ini adalah karena dalam model ini,
peserta didik dibagi dalam kelompok kecil yang beranggotakan 4 orang secara
heterogen menurut prestasi, jenis kelamin dan suku. Sehingga sangat efisien
untuk melihat bagaimana peserta didik berkolaborasi dalam kelompok diskusi.
Metode Penelitian
A.
Setting Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA Negeri
2 Lirung Kecamatan Salibabu dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan
Budi pekerti pada konsep materi Bentuk dan fungsi Keluarga dengan menggunakan
strategi pembelajaran peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe
STAD di kelas XI MIA dengan jumlah peserta didik sebanyak 22 orang terdiri dari
15 orang perempuan dan 7 orang laki-laki.
B. Jenis dan Desain Tindakan
B.1 Jenis Penelitian.
Penelitian
ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dapat ditempuh untuk
memperbaiki proses dan hasil pembelajaran di kelas sehingga kualitas
pembelajaran pada materi Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti dapat
ditingkatkan. Rencana penelitian ini dilakukan dalam dua siklus dengan
menggunakan model penelitian tindakan yang meliputi 1) perencanaan (planning),
2) tindakan (action), 3) observasi (observation), 4) refleksi
(reflection).
B.2 Desain Tindakan
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan
dalam dua siklus. Siklus pertama terdiri dari tiga kali tatap muka (pertemuan)
dengan alokasi waktu untuk pertemuan pertama 3x45 menit, pertemuan kedua 3x45
menit dan untuk pertemuan ketiga 3x45 menit pada materi Pernikahan menurut
perspektif iman Kristen. Kemudian untuk siklus kedua terdiri dari tiga kali
pertemuan dengan rincian untuk pertemuan pertama 3x45 menit, pertemuan kedua
3x45 menit, dan pertemuan ketiga 3x45 menit pada materi Tanggungjawabku
terhadap keluarga. Pada setiap akhir pertemuan dilakukan tindakan dengan
memberikan evaluasi tes tertulis untuk menilai hasil penguasaan konsep peserta
didik.
Tahapan yang dilaksanakan
pada setiap siklus pembelajaran dalam desain Penelitian Tindakan Kelas ini
sebagai berikut.
SIKLUS
I
1.
Tahap Perencanaan (Planning)
a.
Menginformasikan kepada kepala SMA Negeri 2 Lirung.
b.
Menyusun RPP Siklus I dengan prosedur sebagai berikut:
1) Menentukan indikator yang sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.
2) Menyiapkan materi pembelajaran yakni materi tentang Pengertian Keluarga dan Fungsi Keluarga
3) Menyusun langkah-langkah yang sesuai dengan tahapan strategi pembelajaran peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD
c.
Menyusun instrumen yang terdiri dari:
1) Lembar observasi kegiatan aktivita peserta didik dalam proses Pembelajaran
2) Lembar observasi kegiatan guru dalam proses belajar mengajar dalam menerapkan strategi pembelajaran peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD
3) Tes Penguasaan Konsep, yakni tes tertulis bentuk essay tes dan pilihan ganda.
a. Menyusun Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD).b. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam proses pembelajaran.c. Menentukan waktu pelaksanaan tindakan.
2.
Tahap Pelaksanaan Tindakan (Action)
Kegiatan yang dilaksanakan pada siklus I adalah penerapan strategi
pembelajaran peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
Pelaksanaan pembelajarannya mengacu pada RPP yakni sebagai berikut:
a.
Pendahuluan (15 menit)
1) Menyampaikan apersepsi kemudian memberi motivasi kepada peserta didik
2) Menuliskan topik materi yang akan diajarkan.
3) Menyampaikan Kompetensi Dasar dan Indikator pembelajaran.
4) Membagi peserta didik dalam beberapa kelompok secara heterogen, masing-masing terdiri dari 4 atau 5 orang.
5) Guru membagikan LKPD tentang pembuatan peta konsep ke masing-masing kelompok
b.
Kegiatan Inti (65 menit).
Dalam kegiatan inti, guru melakukan tahapan kegiatan yaitu
strategi pembelajaran peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe
STAD dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1) Menjelaskan secara singkat materi yang bersifat umum melalui tayangan LCD, menyampaikan model pembelajaran yang akan digunakan dan menginformasikan hal-hal yang akan dipelajari.
2) Guru memodelkan strategi belajar peta konsep menggunakan langkah-langkah dalam membuat peta konsep, dengan menggunakan materi yang akan dipelajari.
- Memilih suatu bahan bacaan/materi
- Menentukan konsep-konsep yang relevan
- Mengurutkan konsep-konsep dari yang inklusif ke yang kurang inklusif
- Menyusun konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan, konsep yang inklusif diletakkan di bagian atas atau puncak bagan tersebut.
3) Peserta didik dibawah bimbingan guru, melakukan strategi belajar peta konsep menggunakan langkah-langkah dalam membuat peta konsep berdasarkan LKPD.
4) Setelah semua kelompok selesai mengerjakan peta konsep, guru memberikan kesempatan kepada masing-masing kelompok secara bergantian untuk mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas.
5) Kemudian ketika sesi diskusi kelas selesai, guru memberikan kuis kepada siswa dan siswa tidak boleh bekerja sama.
c.
Penutup ( 10 menit)
1) Guru menjelaskan kembali materi yang belum dimengerti oleh peserta didik.
2) Guru membimbing peserta didik membuat rangkuman atau simpulan tentang materi yang telah dipelajarinya.
3) Guru melaksanakan penilaian:
a. Penilaian proses, dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan instrumen penilaian peserta didik.
b. Penilaian penguasaan konsep, dilakukan pada akhir proses pembelajaran dengan menggunakan tes tertulis bentuk essay dan pilihan ganda.
4) Guru menutup pelajaran.
3. Pemantauan dan Evaluasi Tindakan (Observation)
Pemantauan proses
pembelajaran dilakukan pengamat dengan menggunakan alat pemantauan berupa
lembar observasi pengamatan guru dan pengamatan peserta didik yang telah
disiapkan. Pemantauan dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung.
Sementara itu evaluasi penguasaan konsep dilaksanakan pada setiap akhir
pembelajaran. Selanjutnya peneliti bersama guru pengamat mengevaluasi hasil
pemantauan kegiatan belajar mengajar dan melihat penguasaan konsep yang dicapai
oleh peserta didik.
4. Refleksi (Reflecting)
Pada tahap ini jika hasil
tindakan yang dilaksanakan belum mencapai indikator keberhasilan yang telah
ditetapkan, maka pelaksanaan tindakan harus dilanjutkan pada siklus berikutnya,
dengan memperhatikan aspek-aspek yang belum tuntas pada siklus sebelumnya
(Siklus I).
Siklus II
1. Tahap Perencanaan (Planning)
Adapun persiapan yang
dilakukan sebelum pelaksanaan tindakan adalah:
1. Perencanaan
Dalam
tahap ini kegiatan yang dilaksanakan adalah:
a)
Merumuskan penyempurnaan tindakan dengan memperhatikan aspek-aspek yang belum
terlaksana secara optimal pada siklus I.
b)
Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran RPP
c)
Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran.
d)
Menyusun instrumen yang terdiri atas :
1) Lembar observasi kegiatan guru dalam menerapkan strategi pembelajaran peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD
2) Lembar observasi kegiatan peserta didik dalam proses pembelajaran
3) Tes Penguasaan Konsep, yakni tes tertulis bentuk essay dan pilihan ganda.
2.
Pelaksanaan Tindakan (Action)
Pelaksanaan tindakan pada
siklus ini sama dengan pelaksanaan tindakan pada siklus I. Materi yang
diberikan pada siklus ini merupakan lanjutan dari materi siklus I yaitu sistem
gerak. Pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus II ini merupakan tindakan
yang telah disempurnakan untuk dilaksanakan secara optimal. Pelaksanaan
pembelajarannya mengacu pada skenario pembelajaran pada siklus II sebagai
berikut:
a. Pendahuluan (15 menit)
1) Setiap awal pembelajaran, guru menggali pengetahuan materi yang akan dipelajari, selanjutnya memberikan apersepsi dan motivasi kepada peserta didik.
2) Menuliskan topik materi yang akan diajarkan.
3) Menyampaikan Kompetensi Dasar dan Indikator pembelajaran yang harus dicapai oleh peserta didik.
4) Membagi peserta didik dalam beberapa kelompok secara heterogen, masing-masing terdiri dari 4 atau 5 orang.
5) Guru membagikan LKPD tentang pembuatan peta konsep ke masing-masing kelompok
b. Kegiatan Inti (60 menit)
Dalam
kegiatan inti, guru melakukan tahapan kegiatan yaitu strategi pembelajaran peta
konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan langkah-langkah
sebagai berikut :
1) Menjelaskan secara singkat materi yang bersifat umum melalui tayangan LCD, menyampaikan model pembelajaran yang akan digunakan dan menginformasikan hal-hal yang akan dipelajari.
2) Guru memodelkan strategi belajar peta konsep menggunakan langkah-langkah dalam membuat peta konsep, dengan menggunakan materi yang akan dipelajari.
- Memilih suatu bahan bacaan/materi
- Menentukan konsep-konsep yang relevan
- Mengurutkan konsep-konsepdari yang inklusif ke yang kurang inklusif
- Menyusun konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan, konsep yang inklusif diletakkan di bagian atas atau puncak bagan tersebut.
3) Peserta didik dibawah bimbingan guru, melakukan strategi belajar peta konsep menggunakan langkah-langkah dalam membuat peta konsep berdasarkan LKPD.
4) Setelah semua kelompok selesai mengerjakan peta konsep, guru memberikan kesempatan kepada masing-masing kelompok secara bergantian untuk mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas.
5) Kemudian ketika sesi diskusi kelas selesai, guru memberikan kuis kepada siswa dan siswa tidak boleh bekerja sama.
d.
Penutup ( 10 menit)
1) Guru menjelaskan kembali materi yang belum dimengerti oleh peserta didik.
2) Guru membimbing peserta didik membuat rangkuman atau simpulan tentang materi yang telah dipelajarinya.
3) Guru melaksanakan penilaian:
a. Penilaian proses, dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan instrumen penilaian peserta didik.
b. Penilaian penguasaan konsep, dilakukan pada akhir proses pembelajaran dengan menggunakan tes tertulis bentuk essay dan pilihan ganda.
4) Guru menutup pelajaran.
3. Tahap Pemantauan dan Evaluasi (Observasi)
Kegiatan selanjutnya yang akan dilakukan oleh peneliti dan
observer adalah menilai penguasaan konsep peserta didik melalui tes tertulis
bentuk essay dan pilihan ganda. Keseluruhan data yang diperoleh melalui
instrumen penilaian tersebut akan menjadi bahan pertimbangan untuk melaksanakan
tindakan selanjutnya dengan melihat hasil yang diperoleh pada siklus kedua.
4. Tahap analisis dan
Refleksi (Reflecting)
Pada tahap ini semua data
yang diperoleh dari hasil pemantauan atau pengamatan dan evaluasi akan
dianalisis secara kuantitatif maupun secara kualitatif dan hasilnya
dimanfaatkan untuk merefleksi diri dari seluruh kegiatan proses pembelajaran
yang telah dilaksanakan. Tahap refleksi pada siklus II guru mengevaluasi
penggunaan strategi pembelajaran peta konsep melalui model pembelajaran
kooperatif tipe STAD sebagai upaya meningkatkan penguasaan konsep terhadap
materi. Jika hasil tindakan yang diperoleh pada siklus II, belum mencapai indikator
keberhasilan yang telah ditetapkan, maka pelaksanaan tindakan akan dilanjutkan
pada siklus berikutnya. Namun jika hasil tindakan yang diperoleh telah mencapai
indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, maka pelaksanaan tindakan tidak
perlu dilakukan lagi.
B.3. Teknik Pengumpulan
Data
1. Tes
Tes digunakan untuk
mengukur tingkat kemampuan penguasaan konsep peserta didik dalam menguasai
materi yang dipelajari, dalam hal ini penguasaan konsep yang berkaitan dengan
ranah kognitif. Tes ini dilakukan pada setiap siklus dalam pembelajaran.
2. Non Tes
Teknik non tes dalam
penelitian ini adalah:
1. Instrumen observasi
kegiatan guru melaksanakan proses pembelajaran menggunakan strategi
pembelajaran peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD
2. Instrumen observasi
Peserta Didik dalam Proses Pembelajaran
Data aktivitas peserta
didik selama pembelajaran dikumpulkan melalui teknik observasi dengan
menggunakan lembar observasi. Observasi dilakukan oleh 2 orang pengamat atau
observer pada saat proses pembelajaran dengan melihat secara langsung proses
tindakan yang dilaksanakan. Indikator yang diamati adalah (1) kesiapan Peserta
didik dalam menerima pelajaran, (2) respon dan perhatian peserta didik dalam
menerima pelajaran, (3) kerjasama dalam kelompok, (4) disiplin selama proses
belajar mengajar, (5) Menunjukkan semangat belajar (antusias) selama proses
belajar mengajar, (6) menunjukkan kemampuan presentasi di depan kelas, (7)
membuat/ menarik kesimpulan (8) Mengerjakan evaluasi.
B.4. Teknik analisis data
Pada proses Penelitian
Tindakan Kelas ini, analisis data merupakan hal yang sangat penting. Analisis
data tersebut dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan pada setiap
akhir siklus. Data yang dianalis meliputi data hasil pengamatan kegiatan guru
dan data kegiatan peserta didik, serta data hasil penguasaan konsep peserta
didik.
Dalam menetapkan tingkat
keberhasilan peserta didik, digunakan Penafsiran Acuan Patokan (PAP)
sebagaimana dikemukakan oleh Purwanto, 2010 sebagai berikut :
Tabel
3.1 Penafsiran Acuan Patokan (PAP)
|
Prosentase |
Penilaian |
|
85%-100% |
Sangat baik |
|
75%-84% |
Baik |
|
65%-74% |
Cukup |
|
0%-64% |
Kurang |
Tabel
diatas digunakan untuk menetapkan tingkat penguasaan masing-masing pada materi
yang diajarkan di setiap pertemuan dengan skor tertinggi yang dapat dicapai.
Tabel tersebut digunakan untuk melihat ketuntasan penguasaan konsep secara
individu yakni sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75 dan secara
klasikal 85% peserta didik memperoleh nilai minimal 75.
Adapun
rumus yang digunakan adalah:
|
Tingkat Penguasaan=𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝐶𝑎𝑝𝑎𝑖𝑎𝑛 𝑥 100% 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝐼𝑑𝑒𝑎𝑙
|
Semua
data yang terkumpul dianalisis dan dilakukan refleksi pada setiap akhir siklus.
Apabila hasil analisis data yang diperoleh belum mencapai hasil yang
diharapkan, maka perlu dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya dengan
memperhatikan kelemahan ataupun kekurangan yang ditemukan, sehingga tindakan
dilaksanakan secara optimal untuk mencapai hasil yang maksimal.
Hasil Dan Pembahasan
A.1 Hasil Penelitian
A.1.1 Deskripsi Pelaksanaan
Penelitian
Penelitian ini
merupakan suatu penelitian tindakan kelas (PTK) untuk meningkatkan penguasaan
konsep peserta didik dengan menggunakan
strategi pembelajaran peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe
STAD dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Dan Budi Pekerti. Kelas yang
dikenai tindakan dalam penelitian ini adalah kelas XI MIA yang jumlah peserta
didiknya 22 orang yang terdiri dari 7 orang laki-laki dan 15 orang perempuan.
Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dimana untuk siklus pertama
terdiri dari 2 pertemuan dan siklus kedua terdiri dari 3 pertemuan, pada setiap
akhir pelajaran diadakan evaluasi untuk melihat hasil belajar siswa.
A.1.2 Siklus I
Siklus I dilaksanakan dengan dua kali pertemuan,
pertemuan pertama membahas materi tentang
Pernikahan dalam perspektif Kristiani dan pada pertemuan kedua Tanggungjawabku terhadap keluarga. Penelitian
ini dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang
telah disiapkan dengan alokasi waktu 5 jam pelajaran (pertemuan pertama 3x45
Menit dan pertemuan kedua 2x45 menit).
1. Hasil Observasi
Kegiatan Belajar Mengajar Siklus I
Berdasarkan hasil pengamatan aktivitas guru maupun
aktivitas peserta didik dalam proses belajar mengajar diperoleh data sebagai
berikut:
1). Hasil Obervasi Kegiatan Guru
pada Siklus I
Tabel 1.1:
Hasil observasi kegiatan guru pada pertemuan pertama
|
Keterlaksanaan |
Observer 1 |
Observer 2 |
Rata-rata % |
|
Terlaksana |
73% |
73% |
73% |
|
Tidak terlaksana |
27% |
27% |
27% |
|
Jumlah |
100% |
100% |
100% |
Sumber :Analisis hasil lembar observasi kegiatan guru siklus I pertemuan
pertama
Berdasarkan tabel
di atas, hasil observasi kegiatan guru pada siklus I pertemuan pertama yang
dilaksanakan oleh observer 1 dan 2 dari 15 aspek yang diamati rata-rata jumlah
aspek yang terlaksana adalah 73% dan rata-rata jumlah aspek yang tidak
terlaksana adalah 27%. Untuk melihat keterlaksanaan kegiatan guru pada
pertemuan kedua dapat dilihat pada tabel 1.2
Tabel 1.2:
Hasil observasi kegiatan guru pada pertemuan kedua
|
Keterlaksanaan |
Observer 1 |
Observer 2 |
Rata-rata % |
|
Terlaksana |
80% |
80% |
80% |
|
Tidak terlaksana |
20% |
20% |
20% |
|
Jumlah |
100% |
100% |
100% |
Sumber :Analisis hasil lembar
observasi kegiatan guru siklus I pertemuan kedua
Berdasarkan tabel
di atas, hasil observasi kegiatan guru pada siklus I pertemuan kedua yang
dilaksanakan oleh observer 1 dan 2 dari 15 aspek yang diamati rata-rata jumlah
aspek yang terlaksana adalah 80% dan rata-rata jumlah aspek yang tidak
terlaksana adalah 20%.
2). Hasil Observasi Kegiatan peserta
didik siklus I
Tabel 1.3: Hasil observasi kegiatan peserta didik pada
pertemuan pertama
|
Keterlaksanaan |
Observer 1 |
Observer 2 |
Rata-rata % |
|
Terlaksana |
73% |
73% |
73% |
|
Tidak terlaksana |
27% |
27% |
27% |
|
Jumlah |
100% |
100% |
100% |
Sumber
:Analisis hasil lembar observasi kegiatan peserta didik siklus I pertemuan
pertama
Berdasarkan tabel di atas, hasil observasi kegiatan
peserta didik pada siklus I pertemuan pertama yang dilaksanakan oleh observer 1
dan 2 dari 15 aspek yang diamati rata-rata jumlah aspek yang terlaksana adalah
73% dan rata-rata jumlah aspek yang tidak terlaksana adalah 27%. Untuk melihat
keterlaksanaan kegiatan peserta didk pada pertemuan kedua dapat dilihat pada
tabel 1.4
Tabel 1.4: Hasil observasi kegiatan peserta didik pada
pertemuan pertama
|
Keterlaksanaan |
Observer 1 |
Observer 2 |
Rata-rata% |
|
Terlaksana |
80% |
80% |
80% |
|
Tidak terlaksana |
20% |
20% |
20% |
|
Jumlah |
100% |
100% |
100% |
Sumber
:Analisis hasil lembar observasi kegiatan peserta didik siklus I pertemuan
kedua
Berdasarkan tabel
di atas, hasil observasi kegiatan peserta didik pada siklus I pertemuan kedua
yang dilaksanakan oleh observer 1 dan 2 dari 15 aspek yang diamati rata-rata
jumlah aspek yang terlaksana adalah 80% dan rata-rata jumlah aspek yang tidak
terlaksana adalah 20%.
2. Evaluasi
Penguasaan Konsep Peserta Didik.
Hasil penguasaan konsep peserta didik pada materi Hakikat pernikahan kristen dengan menggunakan
tes tertulis untuk Siklus 1 ada 11 nomor, untuk pertemuan pertama 6 nomor
dengan bobot (33), pertemuan kedua 5 nomor essay dengan bobot maksimum 30,
Hasil penelitian tentang penguasaan konsep peserta didik Siklus I dapat dilihat
pada Tabel 1.5 dan 1.6.
Tabel 1.5 Hasil tes penguasaan
konsep peserta didik siklus I pertemuan pertama
|
Nilai |
Jumlah siswa |
Persentase % |
Ketuntasan |
|
Kurang dari 75 |
8 |
36% |
Tidak tuntas |
|
75 keatas |
14 |
64% |
Tuntas |
|
Total |
22 |
100 |
|
Sumber: analisis hasil belajar
peserta didik siklus I pertemuan pertama
Tabel 1.6 Hasil tes penguasaan konsep
peserta didik siklus I pertemuan kedua
|
Nilai |
Jumlah siswa |
Persentase % |
Ketuntasan |
|
Kurang dari 75 |
6 |
27% |
Tidak tuntas |
|
75 keatas |
16 |
73% |
Tuntas |
|
Total |
22 |
100 |
|
Sumber: analisis hasil belajar
peserta didik siklus I pertemuan kedua
A.1.3 Siklus II
Siklus II dilaksanakan selama tiga kali tatap
muka/pertemuan dengan alokasi waktu 8
jam pelajaran pada materi sistem gerak pada manusia dengan rician sebagai
berikut : pertemuan pertama 3x45 menit, pertemuan kedua 2x45 menit dan
pertemuan ketiga 3x45 menit.
1. Hasil Observasi Kegiatan Belajar
Mengajar Siklus II
1). Hasil Obervasi Kegiatan Guru pada
Siklus II
Untuk mengamati kegiatan belajar mengajar siklus II,
maka digunakan instrumen yang sama seperti pada siklus I yaitu menggunakan
lembar observasi kegiatan guru yang memuat 15 aspek yang dilaksanakan oleh
observer 1 dan observer 2
Tabel
1.7: Hasil observasi kegiatan guru pada pertemuan pertama
|
Keterlaksanaan |
Observer 1 |
Observer 2 |
Rata-rata% |
|
Terlaksana |
87% |
87% |
87% |
|
Tidak terlaksana |
13% |
13% |
13% |
|
Jumlah |
100% |
100% |
100% |
Sumber
:Analisis hasil lembar observasi kegiatan guru siklus II pertemuan pertama
Berdasarkan tabel
di atas, hasil observasi kegiatan guru pada siklus II pertemuan pertama yang
dilaksanakan oleh observer 1 dan 2 dari 15 aspek yang diamati rata-rata jumlah
aspek yang terlaksana adalah 87% dan rata-rata jumlah aspek yang tidak
terlaksana adalah 13%. Untuk melihat keterlaksanaan kegiatan guru pada
pertemuan kedua dapat dilihat pada tabel 1.8
Tabel 1.8 Hasil observasi kegiatan
guru pertemuan kedua
|
Keterlaksanaan |
Observer 1 |
Observer 2 |
Rata-rata% |
|
Terlaksana |
93% |
93% |
93% |
|
Tidak terlaksana |
7% |
7% |
7% |
|
Jumlah |
100% |
100% |
100% |
Sumber
:Analisis hasil lembar
observasi kegitan guru siklus II pertemuan kedua
Berdasarkan tabel
di atas, hasil observasi kegiatan guru pada siklus II pertemuan kedua yang
dilaksanakan oleh observer 1 dan 2 dari 15 aspek yang diamati rata-rata jumlah
aspek yang terlaksana adalah 93% dan rata-rata jumlah aspek yang tidak
terlaksana adalah 7%. Untuk melihat keterlaksanaan kegiatan guru pada pertemuan
ketiga dapat dilihat pada tabel 1.9
Tabel 1.9 Hasil observasi kegiatan guru pada pertemuan
ketiga
|
Keterlaksanaan |
Observer 1 |
Observer 2 |
Rata-rata% |
|
Terlaksana |
100% |
100% |
100% |
|
Tidak terlaksana |
- |
- |
- |
|
Jumlah |
100% |
100% |
100% |
Sumber
:Analisis hasil lembar observasi kegiatan guru siklus II pertemuan ketiga
Berdasarkan
tabel di atas, hasil observasi kegiatan guru pada siklus II pertemuan ketiga
yang dilaksanakan oleh observer 1 dan 2 dari 15 aspek yang diamati, aspek yang
terlaksana adalah 100% dan tidak ada aspek yang
tidak terlaksana.
2). Hasil observasi kegiatan peserta didik pada siklus
II
Observasi
kegiatan peserta didik dilakukan oleh dua orang observer, dengan melihat
keterlaksanaan dari 15 aspek yang diamati.
Tabel 1.10 tabel hasil observasi
kegiatan peserta didik pertemuan pertama
|
Keterlaksanaan |
Observer 1 |
Observer 2 |
Rata-rata% |
|
Terlaksana |
87% |
87% |
87% |
|
Tidak Terlaksana |
13% |
13% |
13% |
|
Jumlah |
100% |
100% |
100% |
Sumber :Analisis hasil lembar
observasi kegiatan peserta didik siklus II pertemuan pertama
Berdasarkan tabel
di atas, hasil observasi kegiatan peserta didik pada siklus II pertemuan
pertama yang dilaksanakan oleh observer 1 dan 2 dari 15 aspek yang diamati
rata-rata jumlah aspek yang terlaksana adalah 87% dan rata-rata jumlah aspek
yang tidak terlaksana adalah 13%. Untuk melihat keterlaksanaan kegiatan guru
pada pertemuan kedua dapat dilihat pada tabel 1.11
Tabel 1.11 Hasil observasi kegiatan
peserta didik pertemuan kedua
|
Keterlaksanaan |
Observer 1 |
Observer 2 |
Rata-rata% |
|
Terlaksana |
93% |
93% |
93% |
|
Tidak terlaksana |
7% |
7% |
7% |
|
Jumlah |
100% |
100% |
100% |
Sumber :Analisis hasil lembar
observasi kegiatan peserta didik siklus II pertemuan kedua
Berdasarkan tabel di atas, hasil observasi kegiatan
peserta didik pada siklus II pertemuan kedua yang dilaksanakan oleh observer 1
dan 2 dari 15 aspek yang diamati rata-rata jumlah aspek yang terlaksana adalah
93% dan rata-rata jumlah aspek yang tidak terlaksana adalah 7%. Untuk melihat
keterlaksanaan kegiatan guru pada pertemuan ketiga dapat dilihat pada tabel
1.12
Tabel 1.12 Hasil observasi kegiatan
peserta didik pertemuan ketiga
|
Keterlaksanaan |
Observer 1 |
Observer 2 |
Rata-rata% |
|
Terlaksana |
100% |
100% |
100% |
|
Tidak terlaksana |
- |
- |
- |
|
Jumlah |
100% |
100% |
100% |
Sumber :Analisi hasil lembar
observasi kegiatan peserta didik siklus II pertemuan ketiga
Berdasarkan
tabel di atas, hasil observasi kegiatan peserta didik pada siklus II pertemuan
ketiga yang dilaksanakan oleh observer 1 dan 2 dari 15 aspek yang diamati aspek
yang terlaksana adalah 100% dan tidak ada aspek yang tidak terlaksana.
2.Evaluasi Penguasaan
Konsep Peserta Didik.
Hasil penguasaan konsep peserta didik siklus II pada
materi tanggungjawab anak dengan
menggunakan tes tertulis dengan bentuk
soal pilihan ganda, esey dan isian. Hasil penguasaan konsep peserta didik
Siklus II dapat dilihat pada Tabel 1.13 di bawah ini:
Tabel 1.13 Hasil tes penguasaan
konsep peserta didik siklus II pertemuan pertama
|
Nilai |
Jumlah Siswa |
Persentase% |
Ketuntasan |
|
Kurang dari 75 |
- |
- |
- |
|
75 keatas |
22 |
22% |
Tuntas |
|
Total |
100 |
100 |
|
Sumber: analisis hasil belajar
peserta didik siklus II pertemuan pertama
Tabel 1.14 Hasil tes penguasaan
konsep peserta didik siklus II pertemuan kedua
|
Nilai |
Jumlah Siswa |
Persentase% |
Ketuntasan |
|
Kurang dari 75 |
5 |
23% |
Tidak tuntas |
|
75 keatas |
17 |
77% |
Tuntas |
|
Total |
22 |
100 |
|
Sumber: analisis hasil belajar
peserta didik siklus II pertemuan kedua
Tabel 1.15 Hasil tes penguasaan
konsep peserta didik siklus II pertemuan ketiga
|
Nilai |
Jumlah Siswa |
Persentase% |
Ketuntasan |
|
Kurang dari 75 |
- |
- |
- |
|
75 keatas |
22 |
100% |
Tuntas |
|
total |
22 |
100 |
|
Sumber: analisis hasil belajar
peserta didik siklus II pertemuan ketiga
Pembahasan
Dengan membandingkan hasil
penelitian yang dicapai pada siklus I dan Siklus II, Setelah melaksanakan
proses pembelajaran dengan menggunakan strategi peta konsep melalui model
pembelajaran kooperatif tipe STAD ternyata mengalami peningkatan yang dapat dilihat
dari hasil pengamatan kegiatan belajar dan hasil belajar.
Berdasarkan data hasil
osbservasi kegiatan guru dan peserta didik yang dilakukan pada siklus I, serta
data hasil belajar peserta didik dimana hanya
16 peserta didik atau (73%) yang memperoleh nilai
75 keatas dan sisanya 6 orang belum mencapai nilai 75 (27%) dengan presentasi
rerata keterlaksanaan kegiatan guru dan peserta didik sebesar 76,50% . Hal ini
membuktikan bahwa masih banyak peserta didik
yang belum memahami konsep tentang materi Hakikat pernikahan kristen. Hal ini
disebabkan oleh beberapa kendala yaitu sebagai berikut:
1.
Siswa kurang memperhatikan penjelasan guru
2.
Guru dalam menyampaikan materi kurang maksimal sehingga peserta didik kurang memahami materi yang diajarkan.
3.
Kurangnya kerjasama peserta didik dalam
kelompok.
4.
Peserta didik belum terbiasa membuat peta konsep
5.
Setelah diadakan evaluasi pada siklus I ternyata hanya 68% peserta didik yang tuntas dalam belajar, dan persentase rerata
keterlaksanaan kegiatan guru dan peserta didik yaitu 76,50% hal ini belum
mencapai kriteria ketuntasan yang diharapkan.
Dengan memperhatikan hasil pembelajaran
yang diperoleh pada siklus I, maka perlu dilakukan tindakan untuk memperbaiki
semua kekurangan yang ada pada siklus I. Pada siklus II dilakukan pembelajaran
yang sama dengan kegiatan pembelajaran pada siklus I, yaitu melakukan
pembelajaran dengan menggunakan strategi peta konsep melalui model pembelajaran
kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran pendidikan agama Kristen dan budi pekerti
pada materi tanggungjawab anak. Hasil yang diperoleh ternyata pada siklus II
ini mengalami peningkatan yang sangat baik yaitu dilihat dari data hasil
observasi kegiatan guru dan peserta didik yang rata-rata sudah mencapai 93%
serta data hasil belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 92,33%. Hal ini
terjadi karena adanya suatu perbaikan pada proses pembelajaran. Perbaikan
tersebut menyangkut kekurangan yang ada pada siklus I. Sehingga penguasaan
konsep peserta didik tentang materi yang dipelajari mengalami peningkatan yang
berdampak langsung pada hasil belajar peserta didik.
Hasil
yang diperoleh pada siklus II menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan
strategi peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD mengalami
peningkatan baik dari evaluasi hasil belajar peserta didik maupun dalam proses kegiatan belajar mengajar. Hal ini disebabkan
karena strategi pembelajaran peta konsep merupakan strategi pembelajaran yang
berpusat pada peserta didik, dimana peserta
didik dilatih terampil dalam menghubungkan
konsep-konsep, mengembangkan kemampuan menggambarkan kesimpulan-kesimpulan
yang masuk akal, mengembangkan kecakapan, strategi dan kebiasaan belajar,
mengembangkan suatu keterbukaan terhadap ide baru, serta mengembangkan
kapasitas untuk memikirkan kemandirian. Sehingga penguasaan konsep peserta
didik meningkat.
Demikian juga
dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD melatih dan membantu peserta
didik untuk bagaimana bekerja sama dalam tim kerja untuk berbagi ide, pendapat,
serta hal-hal lain yang berhubungan dengan proses pembelajaran khususnya dalam
membuat peta konsep sehingga dapat menghasilkan peta konsep yang baik dan
terstruktur.
Untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang optimal, maka proses belajar mengajar harus dilakukan oleh guru
dengan sadar dan penuh tanggung jawab. Selain itu guru harus menggunakan
strategi atau model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan
pada peserta didik sehingga dengan demikian hasil belajar peserta
didik dapat meningkat.
Berdasarkan uraian diatas dapat
disimpulkan bahwa penggunaan strategi peta konsep melalui model pembelajaran
kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran
pendidikan agama Kristen dan budi pekerti dapat meningkatkan penguasaan
konsep peserta didik.
Kesimpulan
Berdasarkan
uraian pada hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Berdasarkan
hasil pengamatan pada kegiatan guru dan kegiatan peserta didik ternyata mengalami peningkatan
yang sangat baik. Maka dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan strategi peta konsep melalui model pembelajaran
kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan kualitas belajar
mengajar.
2. Penggunaan
strategi peta konsep melalui model pembelajaran
kooperatif tipe STAD dapat
mengembangkan keterampilan peserta
didik untuk berfikir kreatif dalam mengkonstruksi konsep-konsep dalam materi pembelajaran,
sehingga penguasaan konsep peserta
didik semakin baik.
3.
Dari hasil yang
diperoleh menunjukkan bahwa proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan
berpengaruh pada penguasaan konsep yang
dapat dilihat melalui hasil belajar. Hasil belajar peserta didik pada siklus I
hanya 68% yang memperoleh nilai 75 keatas kemudian
meningkat pada siklus II menjadi 92,33%
peserta didik yang memperoleh
skor 75 keatas.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian
yang dilakukan, maka peneliti mengemukakan beberapa saran sebagai berikut:
1. Dalam kegiatan
pembelajaran hendaknya guru didalam menentukan model pembelajaran yang
disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan agar mempermudah peserta didik memahami
konsep.
2. Hendaknya guru dapat
menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan agar peserta didik tidak merasa
jenuh dalam menerima materi.
3. Bagi
peserta didik, hendaknya
pengalaman belajar yang diperoleh melalui pelaksanaan tindakan kelas ini dapat
ditingkatkan untuk mencapai pemahaman yang lebih optimal khususnya pada
pelajaran pendidikan agama kristen dan budi pekerti.
Daftar Pustaka
Arikunto
Suharsimi, 2010. Prosedur penelitian
suatu pendekatan praktik-Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta
Cahyo, A. 2012. Panduan aplikasi
teori-teori belajar mengajar teraktual dan terpopuler. Yogyakarta : DIVA
Press
Daryanto, 2011. Penelitian Tindakan Kelas dan Penelitian Tindakan Sekolah. Yogyakarta: Gava Media
Juliana. 2009. Penguasaan konsep. http:/buku pembelajaran.wordpress.com/2013/04/24/penguasaan
konsep/ diakses tanggal 13 juli 2013
Purwanto, H.
2010. Upaya meningkatkan keaktifan dan
prestasi belajar matematika melalui model pembelajaran kooperatif tipe TAI (team-accelerated-instruction) siswa
kelas VII SMP Islam terpadu Abu Bakar Yogyakarta tahun ajaran 2009/2010.
Skripsi S1. Yogyakarta : universitas sarjana wiyata Tamansiswa
Rusman. 2010. Model-model pembelajaran. Jakarta : PT
rajagrafindo persada
Rustaman, et. Al. 2005. Pengertian penguasaan konsep. http:/buku pembelajaran.wordpress.com/2013/04/24/penguasaan konsep/ diakses tanggal 13 juli 2013
Septiana Ismi, 2011. Keefektifan pengguanaan media peta konsep
pohon jaringan pada pembelajaran menulis cerpen di kelas X SMA Negeri 1
Mojotengah Kabupaten Wonosobo. Skripsi Sarjana. Yogyakarta: UNY
Sumaya. 2004. Penguasaan konsep. http:/buku pembelajaran.wordpress.com/2013/04/24/penguasaan
konsep/ diakses tanggal 13 juli 2013
Trianto. 2007. Model-model pembelajaran inovatif
berorientasi konstruktivistik. Jakarta : Prestasi pustaka publisher
Winkel. 1991. Penguasaan konsep. http:/buku pembelajaran.wordpress.com/2013/04/24/penguasaan
konsep/ diakses tanggal 13 juli 2013
Yamin, M dan Ansari B. 2012. Taktik mengembangkan kemampuan individual siswa. Jakarta : Referensi (GP Press Group)
0 komentar:
Posting Komentar