Rabu, 11 November 2020

UPAYA PENINGKATAN PENGUASAAN KONSEP PESERTA DIDIK DENGAN MENGGUNAKAN STRATEGI PEMBELAJARAN PETA KONSEP MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DI KELAS XI MIA SMA NEGERI 2 LIRUNG

 UPAYA PENINGKATAN  PENGUASAAN KONSEP PESERTA DIDIK DENGAN MENGGUNAKAN

STRATEGI PEMBELAJARAN PETA KONSEP MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD

 DI KELAS XI MIA SMA NEGERI 2 LIRUNG

 

Josina Mengga1

SMA Negeri 2 Lirung

Josinamengga1980@gmail.com

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan penguasaan konsep peserta didik dengan menggunakan strategi pembelajaran peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD di kelas XI MIA SMA Negeri 2 Lirung. Salah satu cara peserta didik membangun pemahaman adalah melalui peta konsep. Peta konsep digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Proposisi-proposisi merupakan dua hal atau lebih konsep-konsep yang dihubungkan oleh kata-kata dalam suatu unit semantik. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI MIA  SMA Negeri 2 Lirung.  Pengamatan dilakukan  pada pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen. Keadaan jumlah siswa di kelas ini 22 orang, 15 orang perempuan, dan 7 orang laki-laki. Melalui pengamatan yang dilakukan dikelas XI MIA ketika guru menyampaikan materi sebagian siswa mengambil bagian duduk dibelakang dan bercakap-cakap dengan siswa yang lain tentang hal-hal yang tidak berkaitan dengan materi yang sedang dijelaskan oleh guru, dan ketika diberi tugas mandiri dari 22 siswa hanya 8 siswa yang membuat tugas. Kemampuan siswa untuk mengerjakan tugas dapat dilihat dari pemberian tugas mandiri tersebut. Berdasarkan data yang ada dapat dilihat bahwa masih kurangnya motivasi siswa untuk mengerjakan tugas mandiri. Kurangnya motivasi siswa untuk mengerjakan tugas mandiri disebabkan karena kurangnya penguasaan konsep materi yang disajikan oleh guru.

Kata kunci: Pengusaan Konsep, Peserta Didik, Strategi Pembelajaran Peta Konsep, Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad, Kelas XI SMA Negeri 2 Lirung

 

Abstract

This study aims to improve students' mastery of concepts by using concept map learning strategies through the STAD cooperative learning model in class XI MIA SMA Negeri 2 Lirung. One of the ways students build understanding is through concept maps. Concept maps are used to express meaningful relationships between concepts in the form of propositions. Propositions are two or more things that are connected by words in a semantic unit. The research subjects were students of class XI MIA SMA Negeri 2 Lirung. Observations were made on the implementation of learning Christian Religious Education subjects. The condition of the number of students in this class is 22 people, 15 girls and 7 boys. Through observations made in class XI MIA when the teacher delivered the material, some students took part in sitting behind and chatting with other students about things that were not related to the material being explained by the teacher, and when given independent assignments from 22 students only 8 students making assignments. The ability of students to do assignments can be seen from the giving of these independent assignments. Based on the available data, it can be seen that there is still a lack of student motivation to do independent assignments. Lack of student motivation to do independent assignments is due to a lack of mastery of the concept of material presented by the teacher.

 

 

Keywords: Conceptualization; Students; Concept Map Learning Strategies; Stad Type Cooperative Learning Model; Class XI SMA Negeri 2 Lirung


Pendahuluan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Negara yang maju adalah Negara yang pendidikannya maju pula, dan demikian sebaliknya. Jadi pendidikan menopang kemajuan bangsa . Itulah sebabnya mutu pendidikan yang rendah menjadi keprihatinan bangsa secara keseluruhan, bukan hanya dunia pendidikan sebagai ruang bagi peningkatan kapasitas anak bangsa haruslah dimulai dengan sebuah cara pandang bahwa pendidikan kalangan tertentu yang terlibat dalam proses pendidikan. adalah bagian untuk mengembangkan potensi, daya pikir dan daya nalar serta pengembangan kreatifitas yang dimiliki. Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan masyarakat yang berkualitas, terutama dalam mempersiapkan peserta didik menjadi subjek yang semakin berperan menampilkan keunggulan dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri dan profesional pada bidangnya masing-masing.

Proses pembelajaran memerlukan suatu strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Secara khusus dalam proses pembelajaran guru berperan sebagai pengajar, pembimbing, perantara sekolah dengan masyarakat, administrator dan lain-lain. Untuk itu wajar bila guru memahami dengan segenap aspek pribadi anak didik seperti: (1) kecerdasan dan bakat khusus, (2) prestasi sejak permulaan sekolah, (3) perkembangan jasmani dan kesehatan, (4) kecenderungan emosi dan karakternya, (5) sikap dan minat belajar, (6) cita-cita, (7) kebiasaan belajar dan bekerja, (8) hobi dan penggunaan waktu senggang, (9) hubungan sosial di sekolah dan di rumah, (10) latar belakang keluarga, (11) lingkungan tempat tinggal, dan (12) sifat-sifat khusus dan kesulitan belajar anak didik. Usaha untuk memahami anak didik ini bisa dilakukan melalui evaluasi, selain itu guru mempunyai keharusan melaporkan perkembangan hasil belajar para siswa kepada kepala sekolah, orang tua, serta Instansi yang terkait.

            Berdasarkan pengalaman peneliti saat mengajar dan diskusi dengan salah satu guru mata pelajaran Pendidkan Agama Kristen dan Budi Pekerti di SMA Negeri 2 Lirung, ternyata masih ditemukan beberapa kendala yang dialami guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran seperti kurangnya penguasaan konsep oleh peserta didik. Ada beberapa hal yang menjadi faktor kurangnya penguasaan konsep peserta didik seperti kurangnya minat belajar mandiri baik di sekolah maupun di rumah, hal ini dapat dilihat dari buku catatan yang rata-rata peserta didik dalam satu kelas jarang memilikinya atau kurang lengkap dan malas mengerjakan tugas rumah dan kebanyakan tugas rumah dikerjakan di sekolah sehingga berdampak pada hasil belajar yang rendah. Selain itu fokus belajar peserta didik hanya terpaku pada modul dan LKS yang ada di sekolah tanpa membuat suatu inisiatif belajar sendiri untuk meringkas materi yang luas (dalam modul) kedalam konsep yang lebih sempit (ringkas) agar mudah dipelajari.

Berangkat dari realita yang ada, peneliti mencoba menerapkan strategi pembelajaran yang diharapkan dapat membantu peserta didik agar dapat belajar secara mandiri dalam mengkonstruksi konsep-konsep materi yang dipelajari. Salah satu strategi yang dapat digunakan untuk menentukan tujuan bersama dalam proses pembelajaran adalah strategi peta konsep.

Salah satu cara peserta didik membangun pemahaman adalah melalui peta konsep. Peta konsep digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Proposisi-proposisi merupakan dua hal atau lebih konsep-konsep yang dihubungkan oleh kata-kata dalam suatu unit semantik, Dahar (1989) dalam Yamin dan Ansari (2012). Peta konsep dapat dikembangkan secara individual atau dalam kelompok kecil. Selanjutnya pemetaan konsep menurut Martin (1994) dalam Trianto (2007), merupakan inovasi baru yang penting untuk membantu anak menghasilkan pembelajaran bermakna dalam kelas. Peta konsep menyediakan bantuan visual konkret untuk membantu mengorganisasikan informasi sebelum informasi tersebut dipelajari. Pemetaan yang jelas dapat membantu menghindari miskonsepsi yang dibentuk peserta didik.

Ada beberapa tujuan dalam menggunakan peta konsep yaitu: mengembangkan kemampuan menggambarkan kesimpulan-kesimpulan yang masuk akal, mengembangkan kecakapan, strategi dan kebiasaan belajar, mengembangkan suatu keterbukaan terhadap ide baru, serta mengembangkan kapasitas untuk memikirkan kemandirian.

Berdasarkan beberapa pendapat tentang peta konsep di atas, dapat disimpulkan bahwa peta konsep merupakan alat atau skema yang digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep yang dihubungkan dalam bentuk yang paling sederhana. Dengan peta konsep ini akan diketahui bahwa seseorang akan memahami konsep pelajaran atau tidak.

Konsep dapat dikembangkan secara individual atau dalam kelompok kecil. Dalam penelitian ini peneliti mencoba melakukannya dalam kelompok kecil, dan model pembelajaran yang diambil adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student team achievment division). Alasan peneliti memakai model ini adalah karena dalam model ini, peserta didik dibagi dalam kelompok kecil yang beranggotakan 4 orang secara heterogen menurut prestasi, jenis kelamin dan suku. Sehingga sangat efisien untuk melihat bagaimana peserta didik berkolaborasi dalam kelompok diskusi.

 

Metode Penelitian

A. Setting Penelitian

 Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA Negeri 2 Lirung Kecamatan Salibabu dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi pekerti pada konsep materi Bentuk dan fungsi Keluarga dengan menggunakan strategi pembelajaran peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD di kelas XI MIA dengan jumlah peserta didik sebanyak 22 orang terdiri dari 15 orang perempuan dan 7 orang laki-laki.

B.  Jenis dan Desain Tindakan

B.1  Jenis Penelitian.

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dapat ditempuh untuk memperbaiki proses dan hasil pembelajaran di kelas sehingga kualitas pembelajaran pada materi Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti dapat ditingkatkan. Rencana penelitian ini dilakukan dalam dua siklus dengan menggunakan model penelitian tindakan yang meliputi 1) perencanaan (planning), 2) tindakan (action), 3) observasi (observation), 4) refleksi (reflection).

B.2 Desain Tindakan

 Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Siklus pertama terdiri dari tiga kali tatap muka (pertemuan) dengan alokasi waktu untuk pertemuan pertama 3x45 menit, pertemuan kedua 3x45 menit dan untuk pertemuan ketiga 3x45 menit pada materi Pernikahan menurut perspektif iman Kristen. Kemudian untuk siklus kedua terdiri dari tiga kali pertemuan dengan rincian untuk pertemuan pertama 3x45 menit, pertemuan kedua 3x45 menit, dan pertemuan ketiga 3x45 menit pada materi Tanggungjawabku terhadap keluarga. Pada setiap akhir pertemuan dilakukan tindakan dengan memberikan evaluasi tes tertulis untuk menilai hasil penguasaan konsep peserta didik.

Tahapan yang dilaksanakan pada setiap siklus pembelajaran dalam desain Penelitian Tindakan Kelas ini sebagai berikut.

SIKLUS I

1. Tahap Perencanaan (Planning)

a. Menginformasikan kepada kepala SMA Negeri 2 Lirung.

b. Menyusun RPP Siklus I dengan prosedur sebagai berikut:

1) Menentukan indikator yang sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.

2) Menyiapkan materi pembelajaran yakni materi tentang Pengertian Keluarga dan Fungsi Keluarga

3) Menyusun langkah-langkah yang sesuai dengan tahapan strategi pembelajaran peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD

c. Menyusun instrumen yang terdiri dari:

1) Lembar observasi kegiatan aktivita peserta didik dalam proses Pembelajaran

2) Lembar observasi kegiatan guru dalam proses belajar mengajar dalam menerapkan strategi pembelajaran peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD

3) Tes Penguasaan Konsep, yakni tes tertulis bentuk essay tes dan pilihan ganda.

a. Menyusun Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD).
b. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam proses pembelajaran.

c. Menentukan waktu pelaksanaan tindakan.


2. Tahap Pelaksanaan Tindakan (Action)

Kegiatan yang dilaksanakan pada siklus I adalah penerapan strategi pembelajaran peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pelaksanaan pembelajarannya mengacu pada RPP yakni sebagai berikut:

a. Pendahuluan (15 menit)

1) Menyampaikan apersepsi kemudian memberi motivasi kepada peserta didik

2) Menuliskan topik materi yang akan diajarkan.

3) Menyampaikan Kompetensi Dasar dan Indikator pembelajaran.

4) Membagi peserta didik dalam beberapa kelompok secara heterogen, masing-masing terdiri dari 4 atau 5 orang.

5) Guru membagikan LKPD tentang pembuatan peta konsep ke masing-masing kelompok

b. Kegiatan Inti (65 menit).

Dalam kegiatan inti, guru melakukan tahapan kegiatan yaitu strategi pembelajaran peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1) Menjelaskan secara singkat materi yang bersifat umum melalui tayangan LCD, menyampaikan model pembelajaran yang akan digunakan dan menginformasikan hal-hal yang akan dipelajari.

2) Guru memodelkan strategi belajar peta konsep menggunakan langkah-langkah dalam membuat peta konsep, dengan menggunakan materi yang akan dipelajari.

- Memilih suatu bahan bacaan/materi

- Menentukan konsep-konsep yang relevan

- Mengurutkan konsep-konsep dari yang inklusif ke yang kurang inklusif

- Menyusun konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan, konsep yang inklusif diletakkan di bagian atas atau puncak bagan tersebut.

3) Peserta didik dibawah bimbingan guru, melakukan strategi belajar peta konsep menggunakan langkah-langkah dalam membuat peta konsep berdasarkan LKPD.

4) Setelah semua kelompok selesai mengerjakan peta konsep, guru memberikan kesempatan kepada masing-masing kelompok secara bergantian untuk mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas.

5) Kemudian ketika sesi diskusi kelas selesai, guru memberikan kuis kepada siswa dan siswa tidak boleh bekerja sama.

c. Penutup ( 10 menit)

1) Guru menjelaskan kembali materi yang belum dimengerti oleh peserta didik.

2) Guru membimbing peserta didik membuat rangkuman atau simpulan tentang materi yang telah dipelajarinya.

3) Guru melaksanakan penilaian:

a. Penilaian proses, dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan instrumen penilaian peserta didik.

b. Penilaian penguasaan konsep, dilakukan pada akhir proses pembelajaran dengan menggunakan tes tertulis bentuk essay dan pilihan ganda.

4) Guru menutup pelajaran.

3. Pemantauan dan Evaluasi Tindakan (Observation)

Pemantauan proses pembelajaran dilakukan pengamat dengan menggunakan alat pemantauan berupa lembar observasi pengamatan guru dan pengamatan peserta didik yang telah disiapkan. Pemantauan dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Sementara itu evaluasi penguasaan konsep dilaksanakan pada setiap akhir pembelajaran. Selanjutnya peneliti bersama guru pengamat mengevaluasi hasil pemantauan kegiatan belajar mengajar dan melihat penguasaan konsep yang dicapai oleh peserta didik.

4. Refleksi (Reflecting)

Pada tahap ini jika hasil tindakan yang dilaksanakan belum mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, maka pelaksanaan tindakan harus dilanjutkan pada siklus berikutnya, dengan memperhatikan aspek-aspek yang belum tuntas pada siklus sebelumnya (Siklus I).

Siklus II

1. Tahap Perencanaan (Planning)

Adapun persiapan yang dilakukan sebelum pelaksanaan tindakan adalah:

1. Perencanaan

Dalam tahap ini kegiatan yang dilaksanakan adalah:

a) Merumuskan penyempurnaan tindakan dengan memperhatikan aspek-aspek yang belum terlaksana secara optimal pada siklus I.

b) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran RPP

c) Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran.

d) Menyusun instrumen yang terdiri atas :

1) Lembar observasi kegiatan guru dalam menerapkan strategi pembelajaran peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD

2) Lembar observasi kegiatan peserta didik dalam proses pembelajaran

3) Tes Penguasaan Konsep, yakni tes tertulis bentuk essay dan pilihan ganda.


2. Pelaksanaan Tindakan (Action)

Pelaksanaan tindakan pada siklus ini sama dengan pelaksanaan tindakan pada siklus I. Materi yang diberikan pada siklus ini merupakan lanjutan dari materi siklus I yaitu sistem gerak. Pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus II ini merupakan tindakan yang telah disempurnakan untuk dilaksanakan secara optimal. Pelaksanaan pembelajarannya mengacu pada skenario pembelajaran pada siklus II sebagai berikut:

a. Pendahuluan (15 menit)

1) Setiap awal pembelajaran, guru menggali pengetahuan materi yang akan dipelajari, selanjutnya memberikan apersepsi dan motivasi kepada peserta didik.

2) Menuliskan topik materi yang akan diajarkan.

3) Menyampaikan Kompetensi Dasar dan Indikator pembelajaran yang harus dicapai oleh peserta didik.

4) Membagi peserta didik dalam beberapa kelompok secara heterogen, masing-masing terdiri dari 4 atau 5 orang.

5) Guru membagikan LKPD tentang pembuatan peta konsep ke masing-masing kelompok

b. Kegiatan Inti (60 menit)

Dalam kegiatan inti, guru melakukan tahapan kegiatan yaitu strategi pembelajaran peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1) Menjelaskan secara singkat materi yang bersifat umum melalui tayangan LCD, menyampaikan model pembelajaran yang akan digunakan dan menginformasikan hal-hal yang akan dipelajari.

2) Guru memodelkan strategi belajar peta konsep menggunakan langkah-langkah dalam membuat peta konsep, dengan menggunakan materi yang akan dipelajari.

- Memilih suatu bahan bacaan/materi

- Menentukan konsep-konsep yang relevan

- Mengurutkan konsep-konsepdari yang inklusif ke yang kurang inklusif

- Menyusun konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan, konsep yang inklusif diletakkan di bagian atas atau puncak bagan tersebut.

3) Peserta didik dibawah bimbingan guru, melakukan strategi belajar peta konsep menggunakan langkah-langkah dalam membuat peta konsep berdasarkan LKPD.

4) Setelah semua kelompok selesai mengerjakan peta konsep, guru memberikan kesempatan kepada masing-masing kelompok secara bergantian untuk mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas.

5) Kemudian ketika sesi diskusi kelas selesai, guru memberikan kuis kepada siswa dan siswa tidak boleh bekerja sama.

 

d. Penutup ( 10 menit)

1) Guru menjelaskan kembali materi yang belum dimengerti oleh peserta didik.

2) Guru membimbing peserta didik membuat rangkuman atau simpulan tentang materi yang telah dipelajarinya.

3) Guru melaksanakan penilaian:

a. Penilaian proses, dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan instrumen penilaian peserta didik.

b. Penilaian penguasaan konsep, dilakukan pada akhir proses pembelajaran dengan menggunakan tes tertulis bentuk essay dan pilihan ganda.

4) Guru menutup pelajaran.

3. Tahap Pemantauan dan Evaluasi (Observasi)

Kegiatan selanjutnya yang akan dilakukan oleh peneliti dan observer adalah menilai penguasaan konsep peserta didik melalui tes tertulis bentuk essay dan pilihan ganda. Keseluruhan data yang diperoleh melalui instrumen penilaian tersebut akan menjadi bahan pertimbangan untuk melaksanakan tindakan selanjutnya dengan melihat hasil yang diperoleh pada siklus kedua.

4. Tahap analisis dan Refleksi (Reflecting)

Pada tahap ini semua data yang diperoleh dari hasil pemantauan atau pengamatan dan evaluasi akan dianalisis secara kuantitatif maupun secara kualitatif dan hasilnya dimanfaatkan untuk merefleksi diri dari seluruh kegiatan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Tahap refleksi pada siklus II guru mengevaluasi penggunaan strategi pembelajaran peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai upaya meningkatkan penguasaan konsep terhadap materi. Jika hasil tindakan yang diperoleh pada siklus II, belum mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, maka pelaksanaan tindakan akan dilanjutkan pada siklus berikutnya. Namun jika hasil tindakan yang diperoleh telah mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, maka pelaksanaan tindakan tidak perlu dilakukan lagi.

B.3. Teknik Pengumpulan Data

1. Tes

Tes digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan penguasaan konsep peserta didik dalam menguasai materi yang dipelajari, dalam hal ini penguasaan konsep yang berkaitan dengan ranah kognitif. Tes ini dilakukan pada setiap siklus dalam pembelajaran.

2. Non Tes

Teknik non tes dalam penelitian ini adalah:

1. Instrumen observasi kegiatan guru melaksanakan proses pembelajaran menggunakan strategi pembelajaran peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD

2. Instrumen observasi Peserta Didik dalam Proses Pembelajaran

Data aktivitas peserta didik selama pembelajaran dikumpulkan melalui teknik observasi dengan menggunakan lembar observasi. Observasi dilakukan oleh 2 orang pengamat atau observer pada saat proses pembelajaran dengan melihat secara langsung proses tindakan yang dilaksanakan. Indikator yang diamati adalah (1) kesiapan Peserta didik dalam menerima pelajaran, (2) respon dan perhatian peserta didik dalam menerima pelajaran, (3) kerjasama dalam kelompok, (4) disiplin selama proses belajar mengajar, (5) Menunjukkan semangat belajar (antusias) selama proses belajar mengajar, (6) menunjukkan kemampuan presentasi di depan kelas, (7) membuat/ menarik kesimpulan (8) Mengerjakan evaluasi.

B.4. Teknik analisis data

Pada proses Penelitian Tindakan Kelas ini, analisis data merupakan hal yang sangat penting. Analisis data tersebut dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan pada setiap akhir siklus. Data yang dianalis meliputi data hasil pengamatan kegiatan guru dan data kegiatan peserta didik, serta data hasil penguasaan konsep peserta didik.

Dalam menetapkan tingkat keberhasilan peserta didik, digunakan Penafsiran Acuan Patokan (PAP) sebagaimana dikemukakan oleh Purwanto, 2010 sebagai berikut :

Tabel 3.1 Penafsiran Acuan Patokan (PAP)

 

Prosentase

Penilaian

85%-100%

Sangat baik

75%-84%

Baik

65%-74%

Cukup

0%-64%

Kurang

 

Tabel diatas digunakan untuk menetapkan tingkat penguasaan masing-masing pada materi yang diajarkan di setiap pertemuan dengan skor tertinggi yang dapat dicapai. Tabel tersebut digunakan untuk melihat ketuntasan penguasaan konsep secara individu yakni sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75 dan secara klasikal 85% peserta didik memperoleh nilai minimal 75.

Adapun rumus yang digunakan adalah:

Tingkat Penguasaan=𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝐶𝑎𝑝𝑎𝑖𝑎𝑛 𝑥 100%

                                             𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝐼𝑑𝑒𝑎𝑙       

 

 

Semua data yang terkumpul dianalisis dan dilakukan refleksi pada setiap akhir siklus. Apabila hasil analisis data yang diperoleh belum mencapai hasil yang diharapkan, maka perlu dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya dengan memperhatikan kelemahan ataupun kekurangan yang ditemukan, sehingga tindakan dilaksanakan secara optimal untuk mencapai hasil yang maksimal.

Hasil Dan Pembahasan

A.1 Hasil Penelitian

A.1.1 Deskripsi Pelaksanaan Penelitian

                Penelitian ini merupakan suatu penelitian tindakan kelas (PTK) untuk meningkatkan penguasaan konsep  peserta didik dengan menggunakan strategi pembelajaran peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Dan Budi Pekerti. Kelas yang dikenai tindakan dalam penelitian ini adalah kelas XI MIA yang jumlah peserta didiknya 22 orang yang terdiri dari 7 orang laki-laki dan 15 orang perempuan. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dimana untuk siklus pertama terdiri dari 2 pertemuan dan siklus kedua terdiri dari 3 pertemuan, pada setiap akhir pelajaran diadakan evaluasi untuk melihat hasil belajar siswa.

A.1.2 Siklus I

Siklus I dilaksanakan dengan dua kali pertemuan, pertemuan pertama membahas materi tentang  Pernikahan dalam perspektif Kristiani dan pada pertemuan kedua  Tanggungjawabku terhadap keluarga. Penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah disiapkan dengan alokasi waktu 5 jam pelajaran (pertemuan pertama 3x45 Menit dan pertemuan kedua 2x45 menit).

1.     Hasil Observasi Kegiatan Belajar Mengajar Siklus I       

Berdasarkan hasil pengamatan aktivitas guru maupun aktivitas peserta didik dalam proses belajar mengajar diperoleh data sebagai berikut:

1). Hasil Obervasi Kegiatan Guru pada Siklus I

   Tabel 1.1: Hasil observasi kegiatan guru pada pertemuan pertama

Keterlaksanaan

Observer 1

Observer 2

Rata-rata %

Terlaksana

73%

73%

73%

Tidak terlaksana

27%

27%

27%

Jumlah

100%

100%

100%

               Sumber :Analisis hasil lembar observasi kegiatan guru siklus I pertemuan pertama

                Berdasarkan tabel di atas, hasil observasi kegiatan guru pada siklus I pertemuan pertama yang dilaksanakan oleh observer 1 dan 2 dari 15 aspek yang diamati rata-rata jumlah aspek yang terlaksana adalah 73% dan rata-rata jumlah aspek yang tidak terlaksana adalah 27%. Untuk melihat keterlaksanaan kegiatan guru pada pertemuan kedua dapat dilihat pada tabel 1.2

   Tabel 1.2: Hasil observasi kegiatan guru pada pertemuan kedua

Keterlaksanaan

Observer 1

Observer 2

Rata-rata  %

Terlaksana

80%

80%

80%

Tidak terlaksana

20%

20%

20%

Jumlah

100%

100%

100%

                  Sumber :Analisis hasil lembar observasi kegiatan guru siklus I pertemuan kedua

                Berdasarkan tabel di atas, hasil observasi kegiatan guru pada siklus I pertemuan kedua yang dilaksanakan oleh observer 1 dan 2 dari 15 aspek yang diamati rata-rata jumlah aspek yang terlaksana adalah 80% dan rata-rata jumlah aspek yang tidak terlaksana adalah 20%.


2). Hasil Observasi Kegiatan peserta didik siklus I

Tabel 1.3: Hasil observasi kegiatan peserta didik pada pertemuan pertama

Keterlaksanaan

Observer 1

Observer 2

Rata-rata %

Terlaksana

73%

73%

73%

Tidak terlaksana

27%

27%

27%

Jumlah

100%

100%

100%

         Sumber :Analisis hasil lembar observasi kegiatan peserta didik siklus I pertemuan pertama

            Berdasarkan tabel di atas, hasil observasi kegiatan peserta didik pada siklus I pertemuan pertama yang dilaksanakan oleh observer 1 dan 2 dari 15 aspek yang diamati rata-rata jumlah aspek yang terlaksana adalah 73% dan rata-rata jumlah aspek yang tidak terlaksana adalah 27%. Untuk melihat keterlaksanaan kegiatan peserta didk pada pertemuan kedua dapat dilihat pada tabel 1.4

Tabel 1.4: Hasil observasi kegiatan peserta didik pada pertemuan pertama

Keterlaksanaan

Observer 1

Observer 2

Rata-rata%

Terlaksana

80%

80%

80%

Tidak terlaksana

20%

20%

20%

Jumlah

100%

100%

100%

         Sumber :Analisis hasil lembar observasi kegiatan peserta didik siklus I pertemuan kedua

                Berdasarkan tabel di atas, hasil observasi kegiatan peserta didik pada siklus I pertemuan kedua yang dilaksanakan oleh observer 1 dan 2 dari 15 aspek yang diamati rata-rata jumlah aspek yang terlaksana adalah 80% dan rata-rata jumlah aspek yang tidak terlaksana adalah 20%.

2.     Evaluasi Penguasaan Konsep Peserta Didik.

Hasil penguasaan konsep peserta didik pada materi  Hakikat pernikahan kristen dengan menggunakan tes tertulis untuk Siklus 1 ada 11 nomor, untuk pertemuan pertama 6 nomor dengan bobot (33), pertemuan kedua 5 nomor essay dengan bobot maksimum 30, Hasil penelitian tentang penguasaan konsep peserta didik Siklus I dapat dilihat pada Tabel 1.5 dan 1.6.

               Tabel 1.5 Hasil tes penguasaan konsep peserta didik siklus I pertemuan pertama

Nilai

Jumlah siswa

Persentase %

Ketuntasan

Kurang dari 75

8

36%

Tidak tuntas

75 keatas

14

64%

Tuntas

Total

22

100

 

              Sumber: analisis hasil belajar peserta didik siklus I pertemuan pertama

         Tabel 1.6 Hasil tes penguasaan konsep peserta didik siklus I pertemuan kedua

Nilai

Jumlah siswa

Persentase %

Ketuntasan

Kurang dari 75

6

27%

Tidak tuntas

75 keatas

16

73%

Tuntas

Total

22

100

 

          Sumber: analisis hasil belajar peserta didik siklus I pertemuan kedua

A.1.3 Siklus II

Siklus II dilaksanakan selama tiga kali tatap muka/pertemuan dengan alokasi waktu  8 jam pelajaran pada materi sistem gerak pada manusia dengan rician sebagai berikut : pertemuan pertama 3x45 menit, pertemuan kedua 2x45 menit dan pertemuan ketiga 3x45 menit.

1. Hasil Observasi Kegiatan Belajar Mengajar Siklus II

1). Hasil Obervasi Kegiatan Guru pada Siklus II

Untuk mengamati kegiatan belajar mengajar siklus II, maka digunakan instrumen yang sama seperti pada siklus I yaitu menggunakan lembar observasi kegiatan guru yang memuat 15 aspek yang dilaksanakan oleh observer 1 dan observer 2 

        Tabel 1.7: Hasil observasi kegiatan guru pada pertemuan pertama

Keterlaksanaan

Observer 1

Observer 2

Rata-rata%

Terlaksana

87%

87%

87%

Tidak terlaksana

13%

13%

13%

Jumlah

100%

100%

100%

        Sumber :Analisis hasil lembar observasi kegiatan guru siklus II pertemuan pertama

                Berdasarkan tabel di atas, hasil observasi kegiatan guru pada siklus II pertemuan pertama yang dilaksanakan oleh observer 1 dan 2 dari 15 aspek yang diamati rata-rata jumlah aspek yang terlaksana adalah 87% dan rata-rata jumlah aspek yang tidak terlaksana adalah 13%. Untuk melihat keterlaksanaan kegiatan guru pada pertemuan kedua dapat dilihat pada tabel 1.8

         Tabel 1.8 Hasil observasi kegiatan guru pertemuan kedua

Keterlaksanaan

Observer 1

Observer 2

Rata-rata%

Terlaksana

93%

93%

93%

Tidak terlaksana

7%

7%

7%

Jumlah

100%

100%

100%

        Sumber :Analisis hasil lembar observasi kegitan guru siklus II pertemuan kedua

                Berdasarkan tabel di atas, hasil observasi kegiatan guru pada siklus II pertemuan kedua yang dilaksanakan oleh observer 1 dan 2 dari 15 aspek yang diamati rata-rata jumlah aspek yang terlaksana adalah 93% dan rata-rata jumlah aspek yang tidak terlaksana adalah 7%. Untuk melihat keterlaksanaan kegiatan guru pada pertemuan ketiga dapat dilihat pada tabel 1.9

Tabel 1.9 Hasil observasi kegiatan guru pada pertemuan ketiga

Keterlaksanaan

Observer 1

Observer 2

Rata-rata%

Terlaksana

100%

100%

100%

Tidak terlaksana

-

-

-

Jumlah

100%

100%

100%

         Sumber :Analisis hasil lembar observasi kegiatan guru siklus II pertemuan ketiga                    

                Berdasarkan tabel di atas, hasil observasi kegiatan guru pada siklus II pertemuan ketiga yang dilaksanakan oleh observer 1 dan 2 dari 15 aspek yang diamati, aspek yang terlaksana adalah 100% dan tidak ada aspek yang  tidak terlaksana.

2). Hasil observasi kegiatan peserta didik pada siklus II

Observasi kegiatan peserta didik dilakukan oleh dua orang observer, dengan melihat keterlaksanaan dari 15 aspek yang diamati.

         Tabel 1.10 tabel hasil observasi kegiatan peserta didik pertemuan pertama

Keterlaksanaan

Observer 1

Observer 2

Rata-rata%

Terlaksana

87%

87%

87%

Tidak Terlaksana

13%

13%

13%

Jumlah

100%

100%

100%

              Sumber :Analisis hasil lembar observasi kegiatan peserta didik siklus II pertemuan pertama

                Berdasarkan tabel di atas, hasil observasi kegiatan peserta didik pada siklus II pertemuan pertama yang dilaksanakan oleh observer 1 dan 2 dari 15 aspek yang diamati rata-rata jumlah aspek yang terlaksana adalah 87% dan rata-rata jumlah aspek yang tidak terlaksana adalah 13%. Untuk melihat keterlaksanaan kegiatan guru pada pertemuan kedua dapat dilihat pada tabel 1.11

         Tabel 1.11 Hasil observasi kegiatan peserta didik pertemuan kedua

Keterlaksanaan

Observer 1

Observer 2

Rata-rata%

Terlaksana

93%

93%

93%

Tidak terlaksana

7%

7%

7%

Jumlah

100%

100%

100%

             Sumber :Analisis hasil lembar observasi kegiatan peserta didik siklus II pertemuan  kedua

            Berdasarkan tabel di atas, hasil observasi kegiatan peserta didik pada siklus II pertemuan kedua yang dilaksanakan oleh observer 1 dan 2 dari 15 aspek yang diamati rata-rata jumlah aspek yang terlaksana adalah 93% dan rata-rata jumlah aspek yang tidak terlaksana adalah 7%. Untuk melihat keterlaksanaan kegiatan guru pada pertemuan ketiga dapat dilihat pada tabel 1.12

        Tabel 1.12 Hasil observasi kegiatan peserta didik pertemuan ketiga

Keterlaksanaan

Observer 1

Observer 2

Rata-rata%

Terlaksana

100%

100%

100%

Tidak terlaksana

-

-

-

Jumlah

100%

100%

100%

            Sumber :Analisi hasil lembar observasi kegiatan peserta didik siklus II pertemuan ketiga

 

                Berdasarkan tabel di atas, hasil observasi kegiatan peserta didik pada siklus II pertemuan ketiga yang dilaksanakan oleh observer 1 dan 2 dari 15 aspek yang diamati aspek yang terlaksana adalah 100% dan tidak ada aspek yang  tidak terlaksana.

2.Evaluasi Penguasaan Konsep Peserta Didik.

Hasil penguasaan konsep peserta didik siklus II pada materi  tanggungjawab anak dengan menggunakan tes tertulis  dengan bentuk soal pilihan ganda, esey dan isian. Hasil penguasaan konsep peserta didik Siklus II dapat dilihat pada Tabel 1.13 di bawah ini:

            Tabel 1.13 Hasil tes penguasaan konsep peserta didik siklus II pertemuan pertama

Nilai

Jumlah Siswa

Persentase%

Ketuntasan

Kurang dari 75

-

-

-

75 keatas

22

22%

Tuntas

Total

100

100

 

              Sumber: analisis hasil belajar peserta didik siklus II pertemuan pertama

            Tabel 1.14 Hasil tes penguasaan konsep peserta didik siklus II pertemuan kedua

Nilai

Jumlah Siswa

Persentase%

Ketuntasan

Kurang dari 75

5

23%

Tidak tuntas

75 keatas

17

77%

Tuntas

Total

22

100

 

            Sumber: analisis hasil belajar peserta didik siklus II pertemuan kedua

            Tabel 1.15 Hasil tes penguasaan konsep peserta didik siklus II pertemuan ketiga

Nilai

Jumlah Siswa

Persentase%

Ketuntasan

Kurang dari 75

-

-

-

75 keatas

22

100%

Tuntas

total

22

100

 

           Sumber: analisis hasil belajar peserta didik siklus II pertemuan ketiga

Pembahasan

                Dengan membandingkan hasil penelitian yang dicapai pada siklus I dan Siklus II, Setelah melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan strategi peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD ternyata mengalami peningkatan yang dapat dilihat dari hasil pengamatan kegiatan belajar dan hasil belajar.

                Berdasarkan data hasil osbservasi kegiatan guru dan peserta didik yang dilakukan pada siklus I, serta data hasil belajar peserta didik dimana hanya 16 peserta didik atau (73%) yang memperoleh nilai 75 keatas dan sisanya 6 orang belum mencapai nilai 75 (27%) dengan presentasi rerata keterlaksanaan kegiatan guru dan peserta didik sebesar 76,50% . Hal ini membuktikan bahwa masih banyak peserta didik yang belum memahami konsep tentang materi Hakikat pernikahan kristen. Hal ini disebabkan oleh beberapa kendala yaitu sebagai berikut:

1. Siswa kurang memperhatikan penjelasan guru

2. Guru dalam menyampaikan materi kurang maksimal sehingga peserta didik kurang memahami materi yang diajarkan.

3. Kurangnya kerjasama peserta didik dalam kelompok.

4. Peserta didik belum terbiasa membuat peta konsep

5. Setelah diadakan evaluasi pada siklus I ternyata hanya 68% peserta didik yang tuntas dalam belajar, dan persentase rerata keterlaksanaan kegiatan guru dan peserta didik yaitu 76,50% hal ini belum mencapai kriteria ketuntasan yang diharapkan.   

Dengan memperhatikan hasil pembelajaran yang diperoleh pada siklus I, maka perlu dilakukan tindakan untuk memperbaiki semua kekurangan yang ada pada siklus I. Pada siklus II dilakukan pembelajaran yang sama dengan kegiatan pembelajaran pada siklus I, yaitu melakukan pembelajaran dengan menggunakan strategi peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran pendidikan agama Kristen dan budi pekerti pada materi tanggungjawab anak. Hasil yang diperoleh ternyata pada siklus II ini mengalami peningkatan yang sangat baik yaitu dilihat dari data hasil observasi kegiatan guru dan peserta didik yang rata-rata sudah mencapai 93% serta data hasil belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 92,33%. Hal ini terjadi karena adanya suatu perbaikan pada proses pembelajaran. Perbaikan tersebut menyangkut kekurangan yang ada pada siklus I. Sehingga penguasaan konsep peserta didik tentang materi yang dipelajari mengalami peningkatan yang berdampak langsung pada hasil belajar peserta didik.

Hasil yang diperoleh pada siklus II menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan strategi peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD mengalami peningkatan baik dari evaluasi hasil belajar peserta didik maupun dalam proses kegiatan belajar mengajar. Hal ini disebabkan karena strategi pembelajaran peta konsep merupakan strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, dimana peserta didik dilatih terampil dalam menghubungkan konsep-konsep, mengembangkan kemampuan menggambarkan kesimpulan-kesimpulan yang masuk akal, mengembangkan kecakapan, strategi dan kebiasaan belajar, mengembangkan suatu keterbukaan terhadap ide baru, serta mengembangkan kapasitas untuk memikirkan kemandirian. Sehingga penguasaan konsep peserta didik meningkat.

Demikian juga dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD melatih dan membantu peserta didik untuk bagaimana bekerja sama dalam tim kerja untuk berbagi ide, pendapat, serta hal-hal lain yang berhubungan dengan proses pembelajaran khususnya dalam membuat peta konsep sehingga dapat menghasilkan peta konsep yang baik dan terstruktur.

                Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang optimal, maka proses belajar mengajar harus dilakukan oleh guru dengan sadar dan penuh tanggung jawab. Selain itu guru harus menggunakan strategi atau model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan pada peserta didik sehingga dengan demikian hasil belajar peserta didik dapat meningkat.

                Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penggunaan strategi peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran  pendidikan agama Kristen dan budi pekerti dapat meningkatkan penguasaan konsep peserta didik. 

 

Kesimpulan

            Berdasarkan uraian pada hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.     Berdasarkan hasil pengamatan pada kegiatan guru dan kegiatan peserta didik ternyata mengalami peningkatan yang sangat baik. Maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan strategi peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan kualitas belajar mengajar.

2.     Penggunaan strategi peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD  dapat mengembangkan keterampilan peserta didik untuk berfikir kreatif dalam mengkonstruksi konsep-konsep dalam materi pembelajaran, sehingga penguasaan konsep peserta didik semakin baik.

3.     Dari hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan berpengaruh pada penguasaan konsep yang dapat dilihat melalui hasil belajar. Hasil belajar peserta didik pada siklus I hanya 68% yang memperoleh nilai 75 keatas kemudian meningkat pada siklus II menjadi 92,33% peserta didik yang memperoleh skor 75 keatas.

 Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka peneliti mengemukakan beberapa saran sebagai berikut:

1.  Dalam kegiatan pembelajaran hendaknya guru didalam menentukan model pembelajaran yang disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan agar mempermudah peserta didik memahami konsep.

2.    Hendaknya guru dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan agar peserta didik tidak merasa jenuh dalam menerima materi.

3.    Bagi peserta didik, hendaknya pengalaman belajar yang diperoleh melalui pelaksanaan tindakan kelas ini dapat ditingkatkan untuk mencapai pemahaman yang lebih optimal khususnya pada pelajaran pendidikan agama kristen dan budi pekerti.  

 

Daftar Pustaka                                                 

Arikunto Suharsimi, 2010. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik-Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta

Cahyo, A. 2012. Panduan aplikasi teori-teori belajar mengajar teraktual dan terpopuler. Yogyakarta : DIVA Press

Daryanto, 2011. Penelitian Tindakan Kelas dan Penelitian Tindakan Sekolah.  Yogyakarta: Gava Media

Juliana. 2009. Penguasaan konsep. http:/buku pembelajaran.wordpress.com/2013/04/24/penguasaan konsep/ diakses tanggal 13 juli 2013

Purwanto, H. 2010. Upaya meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar matematika melalui model pembelajaran kooperatif tipe  TAI (team-accelerated-instruction) siswa kelas VII SMP Islam terpadu Abu Bakar Yogyakarta tahun ajaran 2009/2010. Skripsi S1. Yogyakarta : universitas sarjana wiyata Tamansiswa

Rusman. 2010. Model-model pembelajaran. Jakarta : PT rajagrafindo persada

Rustaman, et. Al. 2005. Pengertian penguasaan konsep. http:/buku pembelajaran.wordpress.com/2013/04/24/penguasaan  konsep/ diakses tanggal 13 juli 2013

Septiana Ismi, 2011. Keefektifan pengguanaan media peta konsep pohon jaringan pada pembelajaran menulis cerpen di kelas X SMA Negeri 1 Mojotengah Kabupaten Wonosobo. Skripsi Sarjana. Yogyakarta: UNY

Sumaya. 2004. Penguasaan konsep. http:/buku pembelajaran.wordpress.com/2013/04/24/penguasaan konsep/ diakses tanggal 13 juli 2013

Trianto. 2007. Model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivistik. Jakarta : Prestasi pustaka publisher

Winkel. 1991. Penguasaan konsep. http:/buku pembelajaran.wordpress.com/2013/04/24/penguasaan konsep/ diakses tanggal 13 juli 2013

Yamin, M dan Ansari B. 2012. Taktik mengembangkan kemampuan individual siswa. Jakarta : Referensi (GP Press Group) 

Josina Mengga, S.Th

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar